Jumat, 24 Agustus 2012

KEWAJIBAN BERTAUHID DAN MENJAUHI KESYIRIKAN


Apa Tujuan Diciptakannya Jin Dan Manusia?
Banyak akal yang salah dalam menjawab pertanyaan ini dan banyak pemahaman yang membingungkan dalam perkara ini, kecuali akal yang tersinar wahyu Ilahi yang terbimbing dengan wahyu tersebut serta mengikuti para rosul-Nya. 
Akal seseorang lemah dari keluasan pengetahuan tujuaan diciptakannya jin dan manusia, oleh karena itu perlu mengetahuinya dari Kitabullah (Al Qur‘an) yang tidak ada kebathilan padanya yang diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Dan Allah ‘Azza wa Jalla telah menyebutkan tentang tujuan penciptaan ini didalam firman-Nya : 
“ Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku, Aku tidak mengendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak mengendaki supaya mereka memberi makan pada-Ku, Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan Lagi Maha Sangat Kuat.” (QS. Adz-Dzariat : 56-58)
Berkata Al Imam Ibnu Katsir tentang tafsir ayat ini : “Bahawasanya Allah ta’ala menciptakan makhluk untuk beribadah hanya kepadaNya saja tidak ada sekutu bagiNya. Barangsiapa mentaati-Nya maka Allah akan membalasnya dengan balasan yang sempurna. Dan barngsiapa yang durhaka (menentang) kepada-Nya maka Allah akan mengadzabnya dengan adzab yang sangat dahsyat. Dan Allah memberitakan bahwanya Dia tidak butuh kepada makhukNya bahkan merekalah yang butuh kepadaNya dan Dialah Yang menciptakan dan Yang memberi rizki mereka.
Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan makhluk untuk ibadah kepadaNya. Dan ini konsekwensi akal yang sehat. Karena tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Dzat Yang mampu dalam mencipta dan memberi rizki, sebagaimana Allah Ta’ala firman:
“Berhala-berhala yang mereka ibadahi selain Allah itu tidak mampu dalam menciptakan (membuat) sesuatu apapun, sedang berhala- berhala tersebut dicipakan (dibuat oleh orang).” (QS. An-Nahl : 20)
Dan juga Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya yang kalian ibadahi selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepada kalian.” (QS. Al-Ankabut : 17)
Misi Diutusnya Para Rosul
Allah yang menetapkan ibadah ini pada makhluk-Nya.Dia pulalah yang mengutus para Rosul-Nya untuk berdakwah atau menyeru ummatnya kepada peribadatan kepada Allah semata, dan melarang dari peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Sungguh Kami mengutus seorang rosul pada setiap kelompok manusia untuk menyerukan beribadalah kepada Allah saja dan tinggalkan thoghut.” (QS. An-Nahl : 36)
Dan juga Dia berfirman :
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rosul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan padanya bahwa tidak dan sesembahan yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku.” (QS. Al-Anbiya’ : 25)
Ibadah merupakan hikmah yang karenanyalah diciptakan jin dan manusia. Dan karena ibadah ini pulalah diciptakan langit dan bumi, dunia dan akhirat, jannah (surga) dan nar (neraka). Dan karena ibadah inilah Allah mengutus para Rosul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, mensyari'atkan hukum-hukum-Nya dan menjelaskan halal dan haram untuk menguji makhlukNya, siapa diantara mereka yang paling baik amalnya.
Pengertian ibadah
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah-: ”Ibadah adalah suatu nama yang mencakup seluruh perkara yang dicintai oleh Allah dan diridhoi-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan baik yang tampak maupun yang tersembunyi”.
Asal ibadah adalah ketundukan dan perendahan diri. Suatu ibadah tidaklah dikatakan ibadah sampai diikhlaskan untuk Allah. Apabila ibadah itu tercampur suatu kesyirikan maka ibadah tersebut tertolak atau tidak diterima atas pelakunya dan ibadah tersebut batal dari asalnya, karena ibadah tersebut ketika itu tidak dinamakan ibadah syar’i.
Jadi suatu ibadah tidaklah dikatakan ibadah syar’i kecuali disertai dengan tauhid (mengesekan Allah dalam ibadah). Berkata Ibnu Abbas : عِبَادَةُ اللهِ تَوْحِيْدُ اللهِ ibadatullah (beribadah kepada Allah) maknanya adalah tauhidullah (mengesakan Allah dalam ibadah).

Pengertiaan Tauhid Dan Macam-Macamnya
At Tauhid adalah mengesakan Allah dalam perkara-perkara khusus bagi-Nya berupa ar-rubuyiah, al uluhiyah dan al asmaul husna.
Tauhid terbagi menjadi 3 macam :
a.   Tauhid Rububiyyah, mengesakan (Allah) dalam pencipataan, pemilikan dan pengaturan alam semesta.Tauhid jenis ini diyakini oleh kaum musyrikin. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Katakanlah siapa yang memberi rizki pada kalian dari langit dan bumi, Siapakah yang memiliki (menciptakan) penglihatan, Siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan? maka mereka (kaum musyrikin) menjawab “Allah” (karena mereka meyakini semua itu –red) maka katakannlah: kenapa kalian tidak bertaqwa kepadNya ? (Kemudian kaliaan mengikhlaskan ibadah hanya kepadaNya tiada sekutu bagiNya dan kalian meninggalkan sesembahan selain Allah).” (QS. Yunus : 31).
b.   Tauhid Uluhiyyah, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah, yaitu dengan tidak menjadikan bersama Allah sesuatu yang diibadahi dan bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada-Nya. Tauhid jenis ini banyak diingkari dan ditentang oleh kebanyakan makhluk. Oleh karena itu Allah mengutus para rosul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Allah berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus seorang rosul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan padanya bahwa tidak dan sesembahan yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku.” (QS. Al Anbiya’ : 25)
c.   Tauhidul Asma’ Was Sifat, yaitu mengesakan Allah dalam nama dan sifat yang Allah namai dan sifati pada dirinya didalam kitabNya atau melalui lisan Rosul-Nya. Yang demikian ini dengan menetapkan apa yang Allah tetapkan dan menafikan (meniadakan) apa yang Allah nafikan, tanpa tahrif dan ta’thil, tanpa takyif dan tamtsil. Tauhid jenis ini diyakini sebagian musyrikin dan diingkari oleh sebagian yang lainnya.
Jika seseorang meyakini sifat-sifat yang Allah berhak mendapat sifat tersebut dan dia mensucikan Allah dari semua perkara yang Allah suci dari darinya serta dia menyakini bahwasanya Allah sajalah pencipta segala sesuatu maka tidaklah sebagai muwahhid sampai dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah.

Pengertian Syirik dan Macam- MacamNya
Syirik merupakan lawan tauhid. Syirik ada 2 macam:
a. Syirik Akbar yaitu segala kesyirikan yang telah disebutkan dalam syariat yang berkonsekwensi keluarnya seseorang dari agamanya.
b. Syirik Ashghor yaitu segala amalan baik ucapan maupun perbuatan yang disebutkan dalam syariat pensifatan kesyirikan, akan tetapi tidak mengeluarkan pelakunya dari agamanya. Seperti riya’, bersumpah dengan selain Allah, ucapan seseorang “Kalau bukan karena Allah dan Karenamu, maka…”, dll.
Perbedaan Kedua macam Syirik Dan Kesamaanya
Syirik Akbar mengeluarkan seseorang dari agamanya, menggugurkan seluruh amalan, dan pelakunya kekal di nar (neraka) sedangkan syirik ashghor tidak mengeluarkan seseorang dari agamanya, hanya menggugurkan amalan yang dia berbuat syirik dalam amalan tersebut dan pelakunya tidak kekal di dalam nar (neraka).
Adapun kesamaannya, kedua-duanya tidak diampuni oleh Allah (jika dia meninggal dalam keadaan belum sempat bertaubat kepada Allah). Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman :
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Allah mengampuni dosa selain syirik bagi orang yang Allah kehendaki.” (QS. An Nisa’ : 48)
Dalam ayat tersebut Allah memberitakan bahwasanya Dia tidak mengampuni dosa syirik bagi yang tidak bertaubat darinya. Sedangkan dosa selain syirik maka berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak, maka Allah ampuni dan jika Allah berkehendak lain, maka Allah mengadzabnya.

Mengapa Harus Bertauhid Dan Menjauhi Kesyirikan
Allah Ta'ala berfirman :
“Wahai manusia beribadahlah kalian kepada Rabb kalian yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” (QS. Al-Baqoroh : 21)
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariat : 56)
“Tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama (ibadah) ini untuk Allah dan berpaling dari seluruh agama yang menyelisihi agama tauhid.” (QS. Al-Bayyinah : 5)
Dan sangat banyak ayat-ayat tentang perintah beribadah kepada Allah, maksud ibadah yang karenayalah diciptakannya jin dan manusia adalah mengesakan Allah dalam ibadah dan mengkhususkan Allah dalam seluruh ketaatan yang diperintahkan seperti sholat, shaum, zakat, haji, menyembelih, bernadzar, dan jenis-jenis ibadah yang lain. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman :
“Katakanlah, sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku untuk Allah Rabb semesta alam yang tiada sekutu bagiNya. Dan karenanyalah (ikhlas dalam ibadah) aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri kepada Allah.” (QS. Al-An’am : 162-163)
Disamping Allah memerintahkan untuk bertauhid, Allah pulalah yang melarang lawan tauhid tersebut yaitu kesyirikan, sebagaiman Allah berfirman :
“Katakanlah : Kemarilah aku bacakan apa yang di haramkan atas kalian dari Rabb kalian yaitu: janganlah kalian menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-An’am : 151)
“Sesungguhnya masjid-masjid ini milik Allah maka janganlah kalian beribadah kepada sesuatu apapun bersama Allah.” (QS. Al-Jin : 18)
“Barangsiapa yang beribadah bersama Allah kepada sesembahan yang lain yang tidak ada dalil baginya tentang itu, maka sesungguhnya hisab (perhitungan)nya disisi Rabb-nya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak beruntung.” (QS. Al-Mukminun : 117)
“Yang berbuat demikian itulah Alloh Robb-mu, hanya milikNyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kalian berdo’a kepadanya selain Allah tidak memiliki sesuatu apapun walaupun setipis kulit biji kurma, jika kalian berdo’a kepada mereka, mereka tidak mendengar do’a kalian dan jika mereka mendengar, mereka tidak bisa mengabulkan do’a kalian. Dan dihari kiamat mereka mengingkari kesyirikan kalian. Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti Dzat Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fathir : 13-14)
Allah Azza Wa jalla menjelaskan dalam ayat ini bahwasanya sholat dan menyembelih untuk selain Allah dan berdo’a kepada mayit, berhala, pepohanan, dan bebatuan., semua itu adalah kesyirikan dan kekufuran kepada Allah. Dan seluruh yang diibadahi selain Allah seperti para nabi, malaikat , wali-wali, atau jin dan yang lainnya, mereka semua tidak bisa memberikan mafaat dan menolak madhorot bagi penyembahnya. Mereka tidak bisa mendengar do’a pemyembahnya. Dan jika mereka mendengar, mereka tidak mampu mengambulkan.
Maka wajib bagi setiap mukallaf baik jin dan manusia berwaspada dari kesyirikan ini, memperingati dan menjelaskan bathilnya kesyirikan ini. Dan bahwasanya kesyirikan ini menyelisihi risalah para rosul yang menyeru kepada Tauhidullah dan mengikhlaskan ibadah untukNya.
Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tinggal di Makkah selama 13 tahun menyeru kepada tauhid dan memperingati manusia dari kesyirikan. Kemudian beliau hijrah ke Madinah menebarkan dakwah disana di tengah-tengah kaum Muhajirin dan Anshor , berjihad di jalan Allah, menulis dan menjelaskan dakwah dan syariat yang beliau bawa kepada raja-raja dan tokoh-tokoh masyarakat. Beliau dan para shahabat bersabar dalam dakwah ini sampai menanglah agama Allah ini, dan manusia berbondong-bondong masuk kedalam Islam. Tersinarlah tauhid dan sirnalah kesyirikan di Makkah, Madinah dan seluruh kepulaun yang di kuasai oleh beliau dan yang dikuasai oleh para shahabat setelah beliau. Jayalah Islam dan muslimin disaat itu karena mereka berpegang teguh dengan tauhidullah dan meninggalkan kesyirikan.
“Dialah Dzat yang mengutus rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq agar Dia memenangkannya diatas seluruh agama, sekalipun orang musyrik itu benci.” (QS. Ash-Shoff : 9) 
Wallahu A’lam Bish showab..


Ditulis oleh: Buletin Al-Ilmu

SIROH : Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu Pencari Kebenaran Sejati


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu:
لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا، لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ هَؤُلَاءِ
“Seandainya keimanan itu berada (jauh) di bintang Tsurayya, niscaya orang-orang dari mereka ini telah meraihnya.” Muttafaq ‘alaih

Banyak hati yang tergerak untuk mencari kebenaran. Tak sedikit orang yang mengayunkan langkah, menelusuri jalan panjang demi sebuah hidayah. Namun, kerap kali mereka goyah didera badai ujian, sementara tak jarang jemari melemah melepas hidayah yang sempat digenggam.
Inilah Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang mulia. Kegigihannya dalam mencari kebenaran adalah teladan. Kekokohannya menggenggam hidayah adalah bukti kebenaran iman.

Dari mana Asal Beliau radhiyallahu ‘anhu?
Salman adalah salah seorang penduduk Persia (dalam bahasa Arab, Faris), karena itulah beliau disebut dengan al-Farisi. Dari sanalah beliau berasal, tepatnya di sebuah desa bernama Jayy, bagian dari kota Asbahan (kota Isfahan, Iran). Ketika itu, beliau dikenal dengan nama aslinya, Ruziyah. Setelah memeluk Islam beliau bergelar Abu Abdillah, masyhur dengan julukan Salman al-Khair atau Salman bin al-Islam.
Ayah beliau adalah seorang pembesar di desanya. Kecintaan yang sangat kepada Salman membuat sang ayah menahan puteranya di dalam rumah layaknya gadis pingitan. Salman menjalani hari-harinya  sebagai penjaga api, sesembahan pemeluk agama Majusi.
Awal Mula Meninggalkan Agama Majusi
Ayah Salman memiliki sebuah ladang yang amat luas. Suatu ketika, dia tersibukkan oleh bangunan miliknya dan menyuruh Salman pergi ke ladang. Di tengah perjalanan, Salman melewati sebuah gereja Nasrani. Salman kemudian masuk dan mendapati orang-orang Nasrani yang sedang beribadah. Rasa kagum meliputi hati Salman. Dari mereka, Salman mengetahui bahwa agama Nasrani itu berasal dari Syam (Palestina dan sekitarnya).
Salman mengisahkan peristiwa itu dan mengungkapkan kekagumannya kepada ayahnya. Kekhawatiran menghinggapi diri sang ayah. Karenanya, ayah Salman kemudian membelenggu kedua kaki Salman dan menahannya di rumah.
Inilah Salman. Sesuatu telah berkecamuk di dalam hatinya. Saatnya mencari kebenaran yang selama ini terhalang dari dirinya. Meskipun rintangan pertama justru datang dari ayahnya sendiri.
Hari-hari telah berlalu, tersiar kabar kedatangan rombongan pedagang dari Syam. Kesempatan yang dinanti-nanti. Ketika urusan mereka telah selesai dan hendak pulang ke Syam, Salman melepaskan belenggu dari kedua kakinya dan berangkat bersama mereka ke Syam.

Salman dan Agama Nasrani
Sesampainya di Syam, Salman segera mencari tahu tentang orang yang paling utama di antara pengikut agama Nasrani. Bertemulah Salman dengan seorang uskup yang ada di gereja. Salman tinggal bersama uskup tersebut dan melayaninya di dalam gereja. Ternyata, uskup itu seorang yang jelek perangainya. Dia memerintahkan orang-orang agar bersedekah, namun harta sedekah tersebut disimpannya untuk dirinya sendiri.
Tak lama, uskup itu pun mati. Salman memberitahukan perbuatan uskup tersebut kepada orang-orang Nasrani dan menunjukkan kepada mereka simpanannya berupa tujuh tempayan yang penuh dengan emas dan perak. Mereka pun menyalib uskup tersebut dan tidak menguburkannya.
Kemudian mereka menjadikan orang lain sebagai pengganti. Dia adalah seorang yang tekun beribadah dan zuhud terhadap dunia. Salman sangat mencintainya lebih dari siapapun sebelumnya. Salman tinggal bersamanya hingga tiba saatnya uskup yang baik tersebut didatangi tanda-tanda kematian.
Inilah Salman. Salman mendatanginya dan meminta wasiat untuk dirinya, kepada siapa ia harus pergi. Dia pun berpesan, “Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mendapati seorang pun yang berada di atas agama yang aku peluk. Orang-orang telah binasa. Mereka telah mengubah agama Nasrani dan meninggalkan kebanyakan agama mereka, kecuali seseorang di Maushil (kota Mosul, Irak). Dia adalah Fulan, ia berada di atas agama yang aku peluk, maka temuilah dia!”
Sepeninggalnya, Salman menemui orang yang disebutkan. Salman tinggal bersamanya dan mendapatinya sebagai sebaik-baik orang di atas agama temannya. Sampai ketika tanda-tanda kematian mendatanginya, Salman kembali meminta wasiat untuk dirinya. Senada dengan ucapan temannya yang terdahulu, lelaki baik ini mewasiatkan kepada Salman untuk menemui seorang lelaki di Nashibin (kota Nusaybin, Turki).
Singkat cerita, Salman mengalami kisah sebagaimana masa-masa di Maushil. Sampai dia mendapatkan petunjuk untuk menemui seorang di ‘Ammuriyyah (kota Amorium, Turki) yang berada di atas agama Nasrani. Salman pun menemui lelaki tersebut dan tinggal bersamanya. Di sana Salman bekerja sampai mempunyai banyak sapi dan kambing.
Sebagaimana sebelumnya, menjelang kematiannya, lelaki itu pun berpesan, “Wahai anakku, aku tidak mengetahui ada seorang pun yang berada di atas agama kami yang aku memerintahkanmu untuk mendatanginya. Tetapi telah dekat masa pengutusan seorang nabi. Dia diutus dengan agama Nabi Ibrahim yang muncul dari jazirah Arab, kemudian hijrah ke sebuah negeri di antara dua tanah yang berbatu hitam, di antaranya ada pohon-pohon kurma (kota Madinah).”
Lelaki itu lalu melanjutkan, “Pada orang itu ada tanda-tanda yang tidak tersembunyi, dia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah. Di antara kedua pundaknya ada tanda kenabian. Jika engkau mampu untuk mendatangi negeri tersebut, maka lakukanlah!” Tak lama, lelaki itu pun meninggal.

Masuk Islamnya Salman
Suatu hari di ‘Ammuriyyah, lewat sekumpulan pedagang dari suku Kalb. Salman meminta mereka untuk membawanya ke jazirah Arab dengan membayarkan sapi-sapi dan kambing-kambing miliknya. Mereka pun setuju. Namun sesampainya di Wadil Qura, mereka justru menjual Salman kepada seorang Yahudi sebagai budak. Tinggallah Salman bersama Yahudi tersebut.
Allah Maha mengetahui kesungguhan hati Salman. Suatu ketika, anak paman si Yahudi datang dan membeli Salman darinya. Kemudian dia membawa Salman ke Madinah. Salman bisa mengetahuinya dengan ciri-ciri yang disebutkan sahabatnya. Sejak saat itu, Salman tinggal di Madinah.
Sementara itu, tiba masanya Allah mengutus Rasul-Nya. Salman tak mengetahui hal ini sampai ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Pada suatu hari, Salman berada di atas pohon kurma, sementara tuannya sedang duduk. Datanglah anak paman tuannya menceritakan tentang datangnya seorang dari Mekkah di Quba. Orang-orang mengira bahwa dia seorang nabi. Mendengar cerita tersebut Salman gemetar karenanya. Dia berusaha bertanya, namun justru membuat marah tuannya hingga meninjunya dengan keras.
Tak putus harapan, Salman berusaha mencari tahu tentang jati diri orang yang dikira nabi tersebut. Berbekal ciri-ciri yang dia ketahui dari sahabatnya, Salman beberapa kali mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kali pertama, Salman mendatangi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa sesuatu sebagai sedekah. Ternyata beliau menyuruh para sahabat memakannya, sementara beliau sendiri menahan diri darinya. Satu bukti bagi Salman.
Kedatangan kedua, Salman kembali membawa sesuatu. Kali ini dia menghadiahkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memakannya dan memerintahkan para sahabat untuk makan. Inilah bukti yang kedua bagi Salman.
Ketiga kalinya, Salman mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang mengiringi jenazah seorang sahabat di pekuburan Baqi’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan dua pakaian sejenis jubah. Salman mengucapkan salam, kemudian berkeliling untuk mencari cap kenabian di bagian punggung Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyadari hal ini, lalu melepaskan selendang dari punggung beliau. Salman pun bisa melihat tanda kenabian itu.
Inilah Salman. Seketika itu dia tertelungkup di hadapan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,lalu mencium beliau, dan menangis. Salman akhirnya masuk Islam. Kesungguhannya dalam mencari kebenaran, mengantarkannya  kepada hidayah yang selama ini dia cari.

Kehidupannya dalam Islam
Hari-hari setelahnya, Salman  masih tersibukkan dalam perbudakan, sehingga tidak mengikuti perang Badar dan Uhud. Dengan bantuan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Salman berhasil membebaskan diri dari perbudakan. Sejak saat itu, Salman tak pernah terluput dari mengikuti peperangan bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta peperangan di masa Khulafa’ Rasyidin.
Pada peristiwa perang Khandaq tahun 5 H, Salman menyumbangkan ide yang cemerlang berupa pembuatan parit besar sebagai strategi pertahanan kaum muslimin. Dengan cara inilah kota Madinah selamat dari upaya penyerangan pasukan gabungan musyrikin Quraisy dan Yahudi saat itu.
Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Abu Darda’ dengan Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu. Mereka menjalani kehidupan di dunia ini dengan kecintaan karena Allah. Hingga mereka berdua terpisahkan karena menjalani tugas masing-masing.
Abu Darda’ menjadi seorang Qadhi (hakim) di Damaskus. Adapun Salman, beliau menjadi gubernur di Madain, Irak. Suatu hari, Abu Darda’ mengirim surat untuk Salman, yang isinya, “Marilah menuju bumi yang suci (Syam)”. Maka Salman membalas surat tersebut, “Sesungguhnya bumi itu tidak bisa menyucikan diri seseorang. Hanyalah amalan yang bisa menyucikan seorang hamba.”

Akhir Kehidupannya
Sebagian ulama menyebutkan adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa umur beliau mencapai 250 tahun, adapun yang menyebutkan lebih dari itu telah terjadi silang pendapat (lihat Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Al Bidayah Wan Nihayah).
Setelah melalui perjalanan panjangnya, beliau wafat dan dimakamkan di Madain, Irak pada tahun 36 H. Beliau telah meninggalkan banyak pelajaran berharga bagi kaum muslimin. Semoga Allah meridhainya.
Wallahu a’lam bish shawab.

Ditulis oleh: Buletin Al-Ilmu